Dzun-Nun al-Mishri

Dzun-Nun al-Mishri adalah seorang mistikus dan asketis Muslim Mesir.

Kutipan

sunting
  • “Aku mengenal Tuhanku melalui Tuhanku; dan sekiranya bukan karena Tuhanku, aku tidak akan mengenal Tuhanku.”
  • “Tanda seorang ‘arif itu ada tiga; cahaya ma’rifahnya tidak memudarkan cahaya sifat wara’nya, secara batiniah tidak memegangi ilmu yang menyangkal hukum lahiriah, dan banyaknya karunia Allah tidak menjadikannya melanggar tirai-tirai larangan-Nya.”
  • “Seorang ‘arif setiap harinya tentu semakin khusyu’, sebab, setiap saat dia semakin dekat dengan-Nya.”
  • “Ma’rifah yang sebenarnya ialah, bahwa Allah menyinari hatimu dengan cahaya ma’rifah yang murni, seperti matahari tak dapat dilihat kecuali dengan cahayanya. Senantiasalah seorang hamba mendekat kepada Allah sehingga terasa hilang dirinya, lebur di dalam kekuasaan-Nya, mereka merasa bahwa mereka berbicara dengan ilmu yang diletakkan Allah pada lidah mereka, mereka melihat dengan penglihatan Allah, mereka berbuat dengan perbuatan Allah.”
  • “Ya Allah, tak pernah kudengar suara-suara satwa, desah pepohonan, gemericik air, kicauan burung, desir angin, gemuruhnya halilintar, selain kurasakan pada semua itu penyaksian akan Keesaan-Mu (wahdaniah) dan bukti ketiadataraan-Mu; bahwa Engkaulah yang Maha Kuasa, Maha Benar, Maha Tahu, Maha Bijaksana, Maha Adil. Dan tiada pada-Mu kefanaan, kejahilan, kezaliman, dan kepalsuan. Ya Rabbi, aku mengenalMu melalui bukti karya-Mu dan tindakan-Mu. Tolonglah daku, ya Rabbi, dalam mencari ridha-Mu dengan ridhaku, dengan mengingatkan Engkau dalam kecintaanku kepada-Mu, dengan kesentosaan dan niat yang teguh.”
  • “Mereka bergerak, dan kata-kata mereka adalah kata-kata Tuhan yang mengalir melalui lidah-lidah mereka, dan pandangan mereka adalah pandangan Tuhan yang telah menelusup ke dalam matanya.”
  • “Sebagian dari tanda-tanda cinta kepada Allah adalah mengikuti kekasih Allah (Nabi Muhammad Saw.) di dalam akhlaknya, perbuatannya, dan sunnahnya.”
  • “Prinsip dasar tasawuf ada empat perkara: (1) mencintai Allah yang Maha Agung, (2) menjauhi yang sedikit (dunia), (3) mengikuti al-Quran, dan (4) takut akan terjadinya perebutan (dari taat kepada maksiat).
  • “Bahwa engkau cinta apa yang dicintai Allah, engkau benci apa yang dibenci-Nya, engkau memohon ridha-Nya, engkau tolak sekalian yang akan merintangi engkau menuju Dia. Jangan takut akan kebencian orang yang membenci. Dan jangan mementingkan diri dan melihatnya, karena dinding yang sangat tebal untuk melihat-Nya ialah lantaran melihat diri sendiri.”
  • “Takut kepada neraka dibandingkan dengan rasa takut untuk berpisah dengan-Nya, seumpama dengan setetes air dibanding dengan luasnya lautan.”
  • “Orang-orang sufi itu adalah orang-orang yang mengutamakan Allah di atas segala apa/siapa pun.”
  • “Orang sufi ialah, apabila ia berkata maka perkataannya itu sama dengan keadaannya, ia tidak mau mengatakan sesuatu kalau sesuatu itu ada pada dirinya. Keadaan orang sufi adalah pemutusan sama sekali daripada kepentingan dunia.”
  • “Taubatnya orang awam dari dosa, sedang taubatnya orang khawas dari lupa.”
  • “Siapapun yang mengingat Allah dengan ingat menurut hakikat sebenarnya akan melupakan segala sesuatu karena begitu sempurnanya ingatannya kepada Allah; dan Allah pun memeliharanya dari segala sesuatu; serta Allah akan menjadi pengganti dari segala apapun.”
  • “Siapapun yang mengingat Tuhan dalam arti yang sesungguhnya, melupakan segala yang lain selain Dia, seperti yang disaksikan oleh mereka yang menerima ilham (kasyf). Aku mengalami hal ini sejak shalat Maghrib sampai sepertiga malam; dan aku mendengar suara-suara makhluk yang memuji Tuhan, dengan suara meninggi sehingga aku takut pada pikiranku sendiri. Kudengar ikan berkata: Terpujilah Sang Raja, Yang Maha Suci, Sang Penguasa."

Pranala luar

sunting
 
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:
Tokoh
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
 
Commons
Wikimedia Commons memiliki media terkait mengenai: